Apakah Bisa Dollar
Seperti Dulu ?
HARIAN44 - Kondisi nilai tukar
mata uang saat ini baik di dunia maupun di Indonesia sedang memasuki
keseimbangan baru.
Ketua Dewan Komisioner Lembaga
Penjamin Simpanan (LPS) Halim Alamsyah menjelaskan saat ini otoritas keuangan
dan moneter berupaya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar
AS.
"Saat ini kita sudah ada di
keseimbangan baru, ya tidak memungkinkan kita bisa kembali ke penguatan ke
posisi Rp 10.000, saat itu kondisi likuiditas dunianya bebreda, kebutuhan untuk
valuta asing (valas) berbeda," kata Halim di sela acara LPS Research Fair
di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Selasa (25/9/2018).
Berdasarkan data Reuters dolar AS
memang pernah berada di kisaran Rp 8.000 an sampai Rp 10.000-an pada tahun 2012
pertengahan 2013.
Dia menjelaskan, kondisi beberapa
tahun sebelumnya juga memiliki indikator bunga acuan yang rendah. Saat ini
Indonesia sudah memasuki keseimbangan baru, Bank Indonesia (BI) juga sudah
merespon dengan kebijakan suku bunga yang sesuai dengan target inflasi.
Halim menjelaskan, jika suku
bunga di dunia naik maka negara lain termasuk Indonesia akan mencari
keseimbangan baru lagi.
"Jadi begini, kalau ada
kondisi suku bunga naik, maka keseimbangannya akan berubah lagi. Kalau The Fed
bunganya naik, maka tak hanya di Indonesia negara lain juga likuiditasnya akan
berkurang karena uangnya kembali," imbuh dia.
Mengutip Reuters pukul 13.00 WIB
dolar AS tercatat Rp 14.905. Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar
Rate (Jisdor) dolar AS tercatat Rp 14.893.

