HARIAN44 - Nilai tukar dolar
Amerika Serikat (AS) menekan mata uang sejumlah negara berkembang, termasuk
Indonesia. Rupiah bahkan telah menyentuh level terendahnya sejak 20 tahun
terakhir setelah menembus Rp 14.777.
Rupiah mengalami tekanan terdalam
setelah rekor pada saat krisis 1998 yang sebesar Rp 16.650. Fakta tersebut
membuat rupiah pada tahun ini menjadi salah satu mata uang berkinerja terburuk
di Asia.
Dengan pelemahan pada hari ini
mencapai 0,7%, rupiah menjadi mata uang dengan depresiasi terdalam di Asia hari
ini disusul oleh ringgit Malaysia. Ringgit Malaysia tertekan 0,44% dari dolar
AS, disusul Indian Rupee 0,28% dan China Yuan Renminbi 0,12%.
Rupiah sendiri sudah tertekan
sebanyak 1.563 poin (11,7%) terhadap dolar AS terhitung sejak awal tahun hingga
saat ini (year to date), hari ini berada di kisaran Rp 14.825. Mengutip data
perdagangan Reuters, dolar AS bergerak dari Rp 13.281 hingga Rp 14.844 sepanjang
tahun ini.
Pergerakan dolar AS tahun ini
memang berbeda dengan saat krisis 1998. Pada masa pemerintahan Presiden
Soeharto, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di kisaran Rp 2.000
dengan titik terendah nya di Rp 1.977 per dolar AS pada tahun 1991.
Sampai akhirnya terjadi krisis
moneter (krismon) dan terjadi pelemahan rupiah yang sangat drastis. Rupiah
terus terkikis seiring kian rontoknya cadangan devisa Indonesia.
Dolar AS bertahan di kisaran Rp
2.000-2.500 karena Indonesia belum menganut rezim kurs mengambang. Sistem kurs
terkendali yang dianut membuat orde Baru ingin dolar AS harus bertahan di level
itu.
Setelah meninggalkan kurs
mengambang, dolar AS secara perlahan mulai merangkak ke Rp 4.000 di akhir 1997,
dan lanjut ke Rp 6.000 di awal 1998.
Setelah sempat mencapai Rp
13.000, dolar AS sedikit menjinak dan kembali menyentuh Rp 8.000 pada April
1998. Namun pada Mei 1998, Indonesia memasuki periode kelam. Penembakan
mahasiswa, kerusuhan massa, dan kejatuhan Orde Baru membuat rupiah kian
'terkapar'.
Sampai akhirnya dolar AS
menyentuh titik tertinggi sepanjang masa di Rp 16.650 pada Juni 1998. Dolar AS
kemudian berbalik arah setelah reformasi, seiring dengan kepercayaan investor
yang sedikit demi sedikit kembali.
Penguatan dolar AS tahun ini
sendiri diyakini dipicu oleh beberapa faktor. Di antaranya faktor dari luar di
mana terjadi krisis di Turki dan Argentina, sentimen kenaikan suku bunga acuan
The Fed hingga perang dagang. Sementara dari dalam negeri, kondisi neraca
pembayaran Indonesia yang defisit mengurangi kekuatan rupiah untuk bertahan.
Sejauh ini langkah yang dilakukan
pemerintah di antaranya mengevaluasi 900 komoditas impor, biodiesel, hingga
intervensi Bank Indonesia melalui peningkatan suku bunga acuan hingga
intervensi di pasar valuta asing sekaligus melakukan pembelian Surat Berharga
Negara (SBN) dari pasar sekunder.

