Spider-man Far From Home: Seorang Pahlawan Super Tersantai di Semesta Marvel


harian44 - Agar kalian dapat memahami beberapa kisah dari Spider-Man Far From Home dengan utuh, ada baiknya kalian menonton dulu di film Avengers Infinity War dan Avengers Endgame. Dalam dua film Avengers itu dikisahkan Thanos melenyapkan setengah populasi umat manusia di dunia. Dan Spider-man bersama para pahlawan super lain berupaya mengembalikan mereka yang lenyap.

Kisah dari Spider-Man Far From Home ini terjadi beberapa tahun lalu setelah Thanos mengalami kekalahan. Dalam film Spider-man Far From Home ini, akan terjadi pemusnahan separuh penduduk bumi yang disebut “blip”.  Spider-Man Far From Home menyebut, bahwa beberapa dari mereka yang di-blip itu kembali ke bumi dengan berbagai perubahan. Ada yang mendadak jadi remaja seperti Brad (Remy). Pada saat itu Brad kini menjadi teman sekelas Peter Parker (Tom), MJ (Zendaya), dan juga Ned (Jacob).

Pada suatu hari, ketika di kelas Peter mengadakan karya wisata untuk pergi ke sejumlah kota yang ada di Eropa, termasuk London dan juga Paris. Namun pada saat itu London diserang oleh sekumpulan Elements yaitu, makhluk yang menyerap energi seperti api, angin, air, dan tanah.

Beruntungnya Nick Fury berserta Mysterio datang tepat waktu untuk menghalangi beberapa Elements itu. Nick serta timnya kemudian melacak keberadaan Elements di kota Praha. Mysterio dan Nick meminta bantuan dari Peter Parker untuk membunuh makhluk ini. Pada awalnya permohonan ini ditolak oleh Peter. Dengan alasannya yang ingin fokus berwisata serta menyatakan cinta kepada MJ di Menara Eiffel.

Mendadak guru dari Peter, Pak Harrington (Martin), mengabarkan bahwa untuk rute karya wisata berubah dari Paris ke Praha. Dengan begitu disanalah Peter sadar bahwa Nick telah membajak jadwal liburannya.

Lebih Eksentrik dan Konyol


Dalam penampilan Spider-man kali ini tampak lebih eksentrik jika dibandingkan dengan film superhero lainnya. Karakteristik yang bisa kita temui dari film ini yaitu pola pikir tokoh utama. Peter, yang masih bocah kerap terlihat egois. Dan Ia berpikir untuk tak menimbang konsekuensi atas pilihannya yang emosional.


Spider-man Far From Home ini dibuat dengan gaya yang santai. Karena itu lah pahlawan kita beberapa kali mementingkan seorang wanita ketimbang menyelamatkan dunia. Ia dengan mudahnya langsung mengganti kostum pahlawan. Bisa jadi, Spider-man ini adalah pahlawan yang paling sering berganti sebuah kostum. Dia lah yang menyuarakan bahwa pahlawan bukan soal kostum semata. Namun, dari segi alur, pemeran Spider-man terasa ringkas dengan tema besar mencari jati diri untuk dikembangkan dalam renungan seputar konsekuensi menjadi seorang pahlawan.


Tanggung jawab yang dipikul seorang pahlawan tak pernah makin ringan. Dulu ia pernah diminta menyelamatkan kota, dan untuk sekarang ini menjadi di beberapa negara. Dunia remaja yang digambarkan dengan berbagai pilihan warna yang cerah, selera humor seputar seperti permainan video game. Kebiasaan seorang pria lajang Amerika saat berkungjung ke Eropa.


Pahlawan Yang Santai


Ternyata film Spider-man Far From Home sukses dalam mengaitkan peristiwa yang ada di Avengers Endgame dengan dunianya sendiri. Walau terlihat tampak rapi, apik, dan terlihat lebih utuh. Namun satu lagi, sekonyol apa pun Peter Parker, untuk filmnya selalu menampilkan isu aktual. Salah satunya, seperti saat Spider-man bertatap muka dengan Mysterio.

Mysterio adalah seorang musuh yang menyinggung karakter masyarakat zaman sekarang dengan menyatakan bahwa, “ Mereka butuh kepercayaan dalam kondisi seperti sekarang, mereka juga akan mempercayai apa pun itu. ”

Itulah wajah dunia yang dibutuhkan saat ini. Saking butuh sesuatu untuk dipercayai, namun hoaks yang sudah banyak beredar pun susah untuk dipercaya. Sampai saat itu terjadi, kepercayaan publik dengan mudah diperalat oleh para penjahat. Dan Kebenarannya pun ikut menjadi sebuah ilusi. Untuk itulah Spider-man hadir untuk ini.

Dalam film ini lebih dari 30% berisi hura-hura dan materi pemantik tawa saja. Ini mencerminkan bawha posisi seorang Spider-man ini hanya sebagai pahlawan paling santai jika kita dibandingkan dengan tokoh sejenis dari Marvel.


Spider-man Far From Home ini tampaknya hendak menguatkan pesan yang diusung di dalam film animasi peraih Oscar Spider-man into Spider-verse, bahwa siapa pun dari dimensi mana pun bisa menjadi Spider-man. Entah kulit putih atau berwarna. Entah kostum merah-biru, bahkan hitam sekali pun. Kepahlawanan itu bersumber dari hati, yang mau peduli kepada orang lain. (Wayan Diananto)